Surat Kecil untuk Anda

surat kecil untuk anda...

Kesan pertama yang muncul ketika ku baca surat ini yaitu kaget. Kenapa tidak. Hari itu adalah hari imlek. Hari libur sekolah. Tapi apa yang dilakukan anak kecil yang umurnya sekitar 7 tahunnan itu? Dia mencari uang untuk sesuap nasi. Betapa beruntungnya kita yang mungkin tidak pernah melakukan hal seperti itu. Tapi apa yang dilakukan anak kecil itu? Dengan berdandan ala kadarnya dengan kaos oblong dan celana pendek. Dengan wajah yang kusam dan beberapa tetes keringat yang menghiasi keningnya menyodorkan surat kecil ini dalam perjalanan pulangku dari Surabaya, 03/02/11.
Dalam bus ia menyodorkan beberapa amplop kepada para penumpang bus. Tak terkecuali aku. Dia memberikan amplop ini dengan wajah tersenyum dan berkata,”Permisi mas…”.
“Deg!” Ku bagaikan ditabrak kereta api dengan lajunya yang sangat kencang yang pernah kutumpangi ketika pergi ku Surabaya. Ku terpukul melihatnya. Melihat anak seperti itu. Dalam hati ku berkata,”Sunggu beruntung ku bisa seperti ini. Ku bisa merasakan seperti ini. Minta ini, diberi. Minta itu diberi. Mungkin jika anak kecil itu meminta pada orang tuanya, mungkin hanya janji yang akan ia dapatkan”. Dan tak terasa mataku meneteskan air matanya yang bercahaya akan pantulan sinar matahari yang mulai terbenam dengan menatap tajam anak kecil itu. Silauan air mata itu menyadarkan temanku yang sedang duduk berdua disampingku, dan menghamburkan anganku akan rizki yang diberikan Tuhan yang terkadang ku tak sadari.
“Napa lo?”, dengan nada lirih.
“Ach, gpp”, jawabku dengan nada lirih juga.
“Kq nangis!?”, tanggap nya.
“Silau nch!”, sambil menutup gorden kaca.
Dan ku selipkan uang secukupnya. Mungkin yang ku berikan ini tidaklah banyak. Tapi insaallah dari sedikit ini akanmembawa kemnafaatan bagi orang lain. Dan tak lama kemudian ia kembali dan mengambil kembali surat itu.
“Alhamdulillah…”, syukurku dalam hati.
Mungkin bagi sebagian orang akan berpendapat bahwa peranan mereka dalam kehidupan ini adalah sebuah ‘pengganggu’. Mereka akan menganggap jika mereka melakukan itu dengan gaya pakaian dan ‘make up’ seperti itu adalah hanya ‘pura-pura’. Tapi menurutku (pada saat itu), entah mengapa anggapan jelek tentang anak-anak seperti seperti yang dijelaskan diatas, hilang entah mengapa. Biyasa ku beranggapan seperti itu. Tapi tidak dihari itu. Tak tahu kenapa. Tapi yang ku lihat adalah derita seorang anak yang mengemban tanggung jawab keluarga. Tanggung jawab keluarga di sini dalam artian, sang anak memang mungkin benar-benar merasa ingin membantu keluarganya.
Dan ku bersyukur, ku bisa seperti ini. Dengan kondisi seperti ini. Dengan jiwa seperti ini.
Terimakasih Tuhan
Engakau masih sayang pada hamabaMu ini

Terimakasih pula Tuhan

Engkau menyadarkanku lewat anak ini

Bahwa tak banyak seberuntung hambaMu ini

Terimakasih Tuhan

“Igo Idol – Terimakasih”

About mzalim

Menapaki jalan seorang penulis adalah salah satu langkah terbesar dalam sejarah hidupku. Apalagi jalan yang ku pilih ini adalah amanat yang harus sepenuhnya digunakan untuk hal-hal yang positif.

Posted on Februari 5, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: