“Sekarang ya sekarang, besok ya besok”

Hm,.
lama tak menulis, pasti nanti banyak kata-kata atau kalimat yang kurang jelas. Kita awali saja dengan bismillahirokhmanirrokhir agar tulisan gw bagus, baik dan benar.

Minggu kemarin, gw ikutan acara Bunkasai di Univesitas Brawijaya, Malang. Sepulang mengikuti acara itu, gw sempat ambil gambar unik yang baru kali ini gw lihat.

Beberapa orang cewe’ di pertigaan pintu gerbang yang sedang mengayunkan tangan mereka. Mengisyaratkan sedang mengatur padatnya lalu lintas kota Malang. Saya tercengang melihat apa yang mereka lakukan. Demi sesuap nasi, mereka berani melakukan apa saja. Seorang perempuan yang kebanyakan merawt kulit mereka agar tidak berminyak, agar tidak kelihatan kusam, agar tidak kepanasan, agar betis ataupun tangan mereka tidak kelihatan besar, agar rambut mereka terurai indah. Tapi perempuan dengan mengenakan kaos dan celana pendek ini seperti tidak ingat bahwa mereka adalah seorang perempuan. Kebanyakan pekerjaan ini dilakukan oleh kaum laki-laki.

Inikah perjuangan yang dilakukan seseorang demi sesuap nasi hingga mereka lupa kodrat mereka sebagai kaum perempuan? Yang jelas mereka melakukan semua ini karena himpitan ekonomi. Apalagi kehidupan kota dengan harga kebutuhan pokok yang relatif mahal dengan penghasilan yang tidak setimpal.


Berapa sch pengahasilan perempuan itu dengan resiko yang besar seperti itu? matahari menjilati kulit mereka hingga kusam tak terurus.

Sungguh beruntung kita tidak seperti mereka. Beruntung sekali kita ‘tidak pernah’ merasakan seperti mereka. Maka dari itu, ‘kita’ sebagai insan yang memiliki tempat yang cukup enak, punya kesempatan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dibanding mereka. ‘Kita’ sebagai pelajar juga harus sadar. ‘Kita’ sekolah bukan cuma untuk duduk, ngobrol sama teman, pulang trus tidur-tiduran di rumah sambil online. Inilah para remaja zaman sekarang. Kebanyakan mereka berfikir bahwa,”Sekarang ya sekarang, besok ya besok”. Prinsip yang tidak menjanjikan.

Inilah salah satu sebab mengapa banyak penyelewengan. Entah itu uang, kepercayaan hingga jabatan. Ach,…

About mzalim

Menapaki jalan seorang penulis adalah salah satu langkah terbesar dalam sejarah hidupku. Apalagi jalan yang ku pilih ini adalah amanat yang harus sepenuhnya digunakan untuk hal-hal yang positif.

Posted on Maret 27, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: