belum selesai…

ini adalah utgas membuat cerpen dari guru sastra saya dalam rangka sebagai tugas akhir semester kelas XI-bahasa dengan tema “Kesenjangan Sosial”. Buat temen-temen yang  mau membaca silahkan, tapi maaf, ini ceritanya berantakan. Karena saya maish belajar menulis. Dan cerpen ini maih jauh dari sempurna, dan belum rampung 100%.

Ihya’ termenung sendiri melihat orang-orang berlalu lalang dengan langakh yang berdera-derap. Seolah ornag-orang ini tidak punya waktu lagi. Di kejar oleh waktu. Seperti di kejar oelh rentenir yang haus akan uang pinjaman. Dengan banyak barang yang dibawanya.

Pagi itu memang Ihya’ tidak melakukan apa. Hanya bisa bengong melihat orang-orang akan pergi bekerja. Sebaliknya dnegan Ihya’. Ia hanya seorang lulusan SMA yang tidak mampu melanjutkan ke perguruan tinggi. Padahal ia salah satu anak yang berprestasi di sekolahannya. Dengan alasan tidak ada biaya, ia tidak mau melanjutkan sekolahnya. Walaupun ia dijanjikan akan mendapatkan beasiswa jika masuk dan ikut seleksi mahasiswa yang akan mendapatkan beasiswa. Kesempatan yang sangat besar seperti ini tidak ia ambil. Mengingat kedua orang tua mereka hanyalah seorang buruh pabrik dengan gaji yang cukup untuk keperluan sehari-hari saja. Hampir tidak ada uang lebh setiap bulannya. Yang ada malah kurang. Dan juga adiknya, hani yang menginjak kelas 10. Ia sengaja memilih Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) karena jika ia lulus sekolah nanti ia ingn bekerja dan membantu orang tuanya.

Tiga bulan sudah Ihya’ dengan ijazah SMAnya keluar masuk perusahaan, baik swasta maupun negri tidak ada yang menerima lamaran pekerjaannya. Padahal ia mendapatkan penghargaan ketika lulusan sekolahnya. Ternyata ia mendapatkan penghargaan sebagai nilai terbaik sesekolahannya karena ia mendapatkan bocoran dari pihak luar. Padahal sebenarnya ia tidak terlalu pandai. Tapi karena mendapatkan bocoran, ia lulus dengan nilai bagus. Akhirnya ketika perusahaan memanggil Ihya’ dengan nilai ijazah yang bagus-bagus tapi dapet dari contekan harus menerima ‘kebusukan’ tindakannya karena ia tidak mampu lulus dalam ‘interview’ yang diajukan oleh perusahaan.

Dan kini  Ihya’ hanya bisa menyesalinya. Apalagi dia sekarang menjadi buah bibir di kampungnya atas kebodohan yang ia lakukan. Hampir setiap hari ketika dia lewat di depan rumah tetangga, statement jelek dari orang lain keluar. Mau marah, tapi

About mzalim

Menapaki jalan seorang penulis adalah salah satu langkah terbesar dalam sejarah hidupku. Apalagi jalan yang ku pilih ini adalah amanat yang harus sepenuhnya digunakan untuk hal-hal yang positif.

Posted on April 12, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: