antara Psikologi Perkembangan dengan Kemerdekaan

Tepatnya kemarin. Di jam pertama sampai jam ke-empat. Pertemuan yang dinantikan antar mahasiswa dengan dosen. Psikologi. Perspektif Perkembangan Masa Hidup menjadi topik hari itu. Sampai-sampai jam yang ditentukan ‘over’ 15 menit. Ga salah sebetulnya kalau over di mata kuliah ini. Soalnya pembahasannya cukup luas. Seperti ilmu-ilmu yang lain. Dan kebetulan kemarin turut membahas perkembangan mulai dari zaman penjajhan oleh bangsa Belanda sampai Indonesia merdeka. Sampai Proklamasi dibaca.

Diceritakan waktu itu Belanda ‘menjarah’ Indonesia selama 350 tahun. Selama itu kekayaan bumi Indonesia dikuras untuk pembangunan negeri Kincir Angin. Selama penjajahan oleh bangsa Belanda, masyarakat Indonesia tidak dibekali pengetahuan berperang ataupun yang lain. Mereka hanya memberikan pengetahuan kepada mereka-mereka yang memiliki jabatan (turunan bangsa belanda, para priyai, dan anak orang-orang yang dianggap penting di zamannya). Dan masyarakat biasa dituntut untuk mengolah ladang untuk dijual hasilnya dengan sistem Tanam Paksa. Sistem tanam paksa ialah mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya (20%) untuk ditanami komoditi ekspor, khususnya kopi, tebu dan tarum (nila). Hasil tanaman ini akan dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah dipastikan dan hasil panen diserahkan kepada pemerintah kolonial. Penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus bekerja 75 hari dalam setahun (20%) pada kebun-kebun milik pemerintah yang menjadi semacam pajak (wikipedia: Cultuurstelsel).

Diketahui bahwa Belanda adalah musuh dari Jepang. Di tahun 1942, Jepang masuk ke Indonesia mencari prajurit untuk dijadikan pasukan perang melawan sekutu yang direncanakan akan dilaksanakan selama 10 tahun tanpa henti. Maka dari itu, selama 2 tahun Jepang menjarah masyarakat kita, melatih mereka megang senjata, menggunakan senajta, bersembunyi, menyerang, dan segala hal yangn diperlukan dalam berperang. Tidak mengenal usia. Bagi kaum laki-laki, anak-anak, remaja, dewasa, sampai yang tua pun diharuskan dan wajib mengikuti latihan utnuk perang. Jikalau salah satu dari mereka mengelak, tembakan selongsong peluru atau pukulan-lah yan gakan mereka terima. Begitu juga dengan para wanita. Mulai dari yang muda sampai yang tua dijadikan ‘wanita’ penghibur bagi tentara Jepang. Tak mengenal priyai, semua orang dijadikan budak.

Selama 2 tahun Indonesia baru bisa merasakan ‘didikan’ secara menyeluruh (tanpa dibedakan status). Hasilnya apa, bangsa Belanda terkejut ketika mereka akembali ke Indonesia. Mereka mengira masyarakat kita adalah tentara Jepang (bagaiamna tidak sama! Yang ngelatih aja dari Jepang :P). Setahu mereka masyarakat kita tidak ’secanggih’ sekarang (menmgenal senjata, menggunakan senjata, bertarung, bersembunyi, taktik menyerang).

Belanda kembali ke Indonesia ketika Jepang sudah tidak di Indonesia lagi. Tapi karena masyarakat kita sudah ber-Proklamasi bahwa bangsa Indonesia sudah merdeka dan dibekali berperang, Indonesai kini berani melawan para penjajah, utamanya dari bangsa Belanda. Mulai dari pertempuran di Surabaya, di Bandung.

Untungnya Indonesia pernah dijajah Jepang. Coba kalau tidak, Belanda tidak akan angkat kaki dari Indonesia, dan masyarakat ktia tidak tahu bagaimana cara berperang dan takik berperang, latihan kemiliteran.

Hm,.

About mzalim

Menapaki jalan seorang penulis adalah salah satu langkah terbesar dalam sejarah hidupku. Apalagi jalan yang ku pilih ini adalah amanat yang harus sepenuhnya digunakan untuk hal-hal yang positif.

Posted on September 15, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: