Menjadi Anak Bahasa

Sebelumnya, nama saya adalah Ali Mudin. Banyak orang memanggil saya mzalim. Saya lahir pada tanggal 22 Juli 2010. Saya tinggal di desa yang cukup maju, yaitu desa Ngadimulyo, Kec. Sukorejo, Kab. Pasuruan.

Saya sekarang duduk di kelas XI SMA dengan jurusan BAHASA. Menjadi anak bahasa bukanlah tujuan utama saya dalam memilih SMA setelah lulus dari SMP N 1 Sukorejo. Awal setelah saya lulus dari SMP, saya mengikuti pendaftaran di SMA N 1 Pandaan. Serangkain seleksi yang diadakan pihak sekolah dalam menyaring siswa baru, telah saya lakukan. Mulai dari hari pertama yaitu pendaftara, yang dilanjutkan pada hari selanjutnya yaitu tes tulis yang diikuti sampai ± 800 calon siswa SMA N 1 Pandaan. Setelah selang beberapa hari kemudian, diadakan tes IQ. Setiap calon siswa dihadapkan dengan selembar kertas yang cukup lebar dan penuh dengan angka tak beraturan. Setiap calon siswa haru mengisi dengan cara menambahkan dan menulis angka satuannya. Dan yang paling mengherankan saya adalah calon siswa disediakan kertas gambar, dan dituntut menggambar sesosok orang full body. Dan hari selanjutnya adalah tes lesan. Calon siswa dihadapkan dengan satu orang guru dan disuruh untuk menceritakan gambar yang sudah disiapkan pihak sekolah. Dan menceritakan tentang pengalaman pribadi ataupun menceritakan yang sudah terjadi (Narrative text). Setelah sekian banyak tes yang saya lalui, hari dimana hasil tes yang sudah dilalui para calon siswa SMA N 1 Pandaan, tiba waktunya. Satu hari khusus disiapkan panitia. Satu persatu calon siswa datang. Ada juga yang berkelompokan. Semua orang mengerumungi papan pengumuman daftar siswa yang diterima. Saya waktu itu mengajak orang tua saya. Namun sayang, semua usaha yang saya lakukan dan orang tua saya berikan, semua sia-sia. Saya gagal masuk ke sekolah yang lagi naik daun ini. Perasaan saya kecewa sekali. Menyesal. Sedih. Semua bercampur menjadi satu dalam diri ini. Tak mampu lagi rasanya tuk menerima kenyataan ini. Orang tua mengharapkan saya agar bisa bergabung menjadi anggota keluarga SMA N 1 Pandaan ini, kandas akan perbuatanku sendiri. Memang, dalam mendaftarkan diri, saya hanya bermodal nilai UAN 33 dan satu buar raport yang sudah di fotocopy sebagai salah satu syarat pendaftaran. Ditambah waktu itu saya sedang tidak mood tuk sekolah di sana. Tapi setelah hari pengumuman tiba, rasanya saya ingin mengulangi kembali. Apalagi ketika pulang. Saya melihat teman sekelas saya dari kejauhan, dengan raut muka berbinar-binar, ditambah senyumannya yang menambah indahnya makhluk Allah yang satu ini. Ia, dia memang sesok gadis yang mampu membuatku kadang senang, sedih, semangat bahkan menangis. M’ Anis. Dia adalah salah satu teman sekelas saya (Kelas IX.C) yang juga mengikuti seleksi penerimaan siswa baru di SMA N 1 Pandaan, tahun ajaran 2009 – 2010. Dari kejauhan dengan wajahnya yang so sweat serta suaranya yang terdengar samar-samar karena dari jarak jauh, dia berkata,”Gimana Lim?”. Ku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku. Yang artinya tidak bisa. Lalu pergi begitu saja tanpa memberikan isyarat lain. Tak terasa air mata menetes. Ku merasa gagal tuk selalu bersama dengannya. Saya tahu apa yang sedang saya rasakan terhadapnya. Tetesan air mata tidak dapat membuat semua ini berubah. M’ Anis yang selama ini menjadi tetangga bangku, kini pergi tuk mencapai apa yang dia inginkan tanpa adanya diriku disisinya. Apalagi diriku. Ku bagaikan burung yang bebas kemana saja. Namun tak tahu kemana ia akan pergi. Beberapa minggu kemudian, saya merasa ingin sekali bertemu dengannya. Ku kangen dia. Ntah mengapa. Perasaan ini tak mau menyembunyikannya terlalu lama. Tetesan air mata itu menunjukkan ada sesuatu yang terjadi padaku. Mungkin karena hari-hariku tak dapat ku rasakan bersama dia. Memang kusuka jika ku dekat ma dia. ntah mengapa tapi hati ini mengatakan,”Kau tak pantas bersamanya…” Kuturuti apa kata hati ini. Namun itu salah. Ku merasa kehilangan setelah hari itu. Even itu adalah even yang menurutku seperti lagunya Glenn Fredly – Terserah…

Setelah mengetahui pengumuman daftar siswa yang terseleksi, yang kenyataannya saya tidak bisa bergabung dalam keluarga besar SMA N 1 Pandaan, rasa bingung dalam diri ini sontak menghampiriku. Tak tahu apa yang harus kulakukan setelah ini. Ku bingung tak tahu kemana ku harus pergi. Pendaftaran siswa baru di SMK Purwosari sudah ditutup. Dan juga pendaftaran siswa baru di SMA N Bangil. Tinggal SMA N 1 Purwosari, SMA N 1 Kejayan dan SMK N 1 Sukorejo (yang dekat dengan lokasi tempat tinggal saya). Berbekal informasi minimku keliling ke sekolahan tersebut. Satu persatu kudatangi dan mencari tahu, syarat apa yang harus kulakukan. Setelah saya fikir-fikir, mulai dari biaya, jarak, kesempatan. Semuanya. Dan SMA N 1 Purwosari menjadi pilihan kedua saya. Semua pihak setuju kalau saya bersekolah disana.

Hari pendaftaranpun tiba. Perasaan tegang, takut, malu bercampur menjadi satu. Dulu, sebelum ujian, saya sudah optimis masuk SMA N 1 Pandaan, dan bilang pada teman-teman, saya pasti bisa masuk ke sekolah itu. Namun sayang. Itu tak bisa terwujud. Rasa malu pada teman-teman selalu timbul dalam diri ini. Apalagi ketika ku bertemu HP. Ku jadi pesimis katika dia melihatku mendaftar di tempat dia juga pertama mendaftar. Ku tak yakin bisa menghadapi semua ini. Tapi dalam diri ni saya berperinsip,”Semua yang terjadi ini adalah yang terbaik untuk semuanya. Khususnya untuk diriku sendiri.” Motto hidup itu tlah ku camkan sejak saya menjadi anggota keluarga SMP N 1 Sukorejo.

Pada waktu pengisian formulir, rasa pesimis sempat terpintas dalam pikiran ini. Namun ayah saya ada disampingku. Beliau mengingatkan ku.”You can do It!” Dan saya dengan percaya diri mengisi semua yang harus saya isi. Untungnya untuk menjadi anggota keluarga besar SMA N 1 Purwosari, tak perlu tes tulis maupun tes lesan. Para calon siswa, hanya perlu memberikan foto copy SKHU di tambah beberapa foto copy piagam, jika ada. Setelah itu, dalam penantianku tuk hari pengumuman, ku berdoa,”Semoga yang terjadi kedepan adalah yang terbaik untuk semua. Khususnya untuk diriku ini. Jadikanlah masa lalu membuat diri ini tuk selalu berusaha keras. Memberikan yang terbaik untuk semuanya. Janganlah Engkau biarkan diri ini terpuruk dalam kegagal yang telah kualami. Berikanlah kekuatan hati tuk menghadapi semua ini… Ku hanyalah setetes air dalam lautan yang luas ini. Dengarkanlah pinta kecilku ini Ya Allah. Berikanlah hidayah dan kesadaran dalam menghadapi semua ini. Amin. Amin. Amin”

Hari pengumuman pun tiba. Semua calon siswa masuk. Namun juga ada calon siswa yang diwakili, kebanyakan wali murid untuk melihat hasil seleksi. Mereka mengaku bahwa anak takut gagal lagi ataupun malu. Memang. Rasa malu itu selalu menghantui diri ini. Dengan ber’positive thinking’, ku melingat pengumuman. Setiap papan pengumuman berjubel banyak siswa dan siswi. Mereka melakukan semua ini untuk melihat hasil seleksi, apakah mereka diterima atau tidak. Mulai dari urutan pertama sampai akhir ku lihat hasil pengumuman itu. Namun, namaku tak ‘nongol’ disana. Baik di datar siswa yang tidak diterima maupun diterima. Rasa khawatir, cemas, sedih bercampur aduk dalam diri ini. Pupilku membesar. Hati kecilku berkata,”Dimana namaku?” Lalu kuteliti lagi bersama bakal calon pesaingku. Ternyata pada urutan 225, namaku tertera dengan keterangan “DITERIMA”. Kuambil nafas panjang, dan “Alahmdulillah…”. Perasaanku pecah melihat semua ini. Perjuangan yang selama ini kulakukan membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Perasaan senang, terharu, bangga. Bercampur aduk dalam diri ini. Pelukan bahagia yang dengan ayahku adalah ungkapan keduaku. Butiran air mata mengalir dari kedua bbelah mataku.

Setelah hari itu. Ku menjadi insan yang lebih menghargai waktu. Setiap ada waktu, ku pergunakan untuk hal yang positif. Banyak sekali.

Masa Orientasi Siswa (MOS) pun tiba. Seluruh siswa yang bakal menjadi anggota keluarga besar SMA Negeri 1 Purwosari, dikumpulakn dalam lapangan upacara. Hari Senin menjadi hari pembukaan MOS periode 2009 – 2010 di SMA Negeri 1 Purwosari yang dibuka oleh Drs. H. Nurhasan, M.Pd. Bapak Kepala Sekolah ini. MOS tahun ini delakukan selama 1 minggu full yang setiap harinya para calon siswa diwajibakan memakai ‘eblek’ yang bertuliskan namanya dan membawa bekal makanan yang sudah ditetapkan oleh kakak OSIS. Dimana setiap hari bekal makanan yang harus kita bawa berbeda-beda. Aneh-aneh pula. Yang harus m’bawa kentang, ketela, jagung, macem-macem dech. Syukur, selama satu minggu selama MOS, ku bisa melewatinya dengan rasa ‘tak tahu malu’.

Kesan pertama yang kudapatkan ketika ku masuk ke kelas untuk pertama kalinya, dengan banyak wajah teman yang baru seeta sifat yang beragam pula adalah ‘malu’. Memang ada beberapa teman dari SMP yang sama. Itulah yang membuat rasa malu itu datang dalam diri ini. Kadang rasa itu pergi dengan sendirinya.

Hari pertama masuk ku duduk di sebelah anagh baru dari SMP Prigen, Eko P. Banyak teman mengatakan anagh ini orangnya ‘keburu-buru’. Memang sich, tapi dari sifat itulah dia bisa jadi lebih banyak dikenal oleh para guru. bu guru kimia, biologi banyak bngtz yang mengenal sosok siswa ini. Satu tahun ku duduk bersama siswa ini. Yang kurasakan yaitu banyak senengnya… Pa lagi klo lagi kumpul ma yang laen. Lebih seru.

Banyak sekali orang yang masih terkenang dalam memorie diri ini. HP, banyak orang memanggilnya seperti itu. Padahal nama aslinya Hari Purwanto. Mungkin itu sudah bawa’an dari SMP. Ea, dari SMP, kebanyakan teman-teman memanggilnya seperti itu. Jadi ga’ salah kalau sekarang masih juga banyak yang memanggilnya seperti itu. Dia sering sekali keluar, ataupun ada keperluan, sering kali samaku. Sejak SMP, memang kita sering keluar bareng. Jika ada keperluan, kadang kita cari bersama. Namun sayang, sudah 3 tahun lamanya ku mengenalnya, dia tak pernah curhat. Mungkin karena ku mempunyai wajah tak menyakinkan ya… hehehe

Ada pula temen dari SMP yang sama, tapi kita tak seakrab saat ini. Hindri, anagh cantik, so sweat, cute’ dan masih banyak lagi. SMP dulu, ku jarang sekali berkomunikasi sama dia, bahkan jarang. Padahal dia kelasnya sebelahan denganku, tapi kita jarang berkomunikasi. Mungkin karena ku terlalu ‘kuper’ kali ya…

Ada juga temen baru, Weani, Defi, Daim, Phriliye, Ily, Wahyu, Ipex, Fauzan, Okix, Ninik. Semua anagh X.1 SERU!?? X.1 dari beberapa anagh yang mempunyai tallent yang bisa diasah dan bisa dituangkan melalui perlombaan ataupunkompetisi yang diadakan baik sekolah ataupun organisasi lain. Salah satunya yaitu, Okix. Postur tubuh mendukung untuk menjadi seorang model, pengetahuan umum pula. Dalam perlombaan ‘modeling’ yang diadakan “Cartika Candra”, dia mendapatkan juara pertama. Dari sekian banyak tallent, Okix adalah yang terbaik menurut para juri. Tak berhenti disitu. Dia juga mengikuti lomba modeling juga di Surabaya. Dia mendapatkan juara kedua. Pernah juga dia mengikuti pemilihan ‘clear hair model’. Namun sayang, di berhenti sampai level 4 dari 5 level. Memang, pesaingnya sangat kreative dan energik.

Banyak sekali prestasi yang sudah diraih oleh kelas ini. Tak bisa lagi disebutkan. Nanti terkesan menyombongkan diri.

Para dewan guru pula.

Selama satu tahun di keals ini, juga pernah ada terjadi masalah. Kesalahpahaman. Kesalahpahaman itu terjadi pada diriku. Ku salah. Ku terlalu memikirkan diri ni saja. Boleh dikatakan egoislah. Ku hanya berpikir untuk saat ini saja. Itu terjadi tak hanya sekali. Itu semua terjadi untuk kepentingan kita semua. Dari kesalahpahamn itu, keals ini menjadi semakin kompak, saling mengerti satu sama lain (care), tambah so sweat dech. Masa-masa nilah yang kuidam-idamkan selama ini. Sebuah keluarga kecil yang mampu membuat diri ini nyaman berada di sini. Membuat diri ini semangat dalam menerima pelajaran. Membuat diri ini siap melangkah bersama-sama. X.1, I miss u?!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: